Hilangnya Generasi Petromaks

Listrik masuk ke kampung kami sekitar tahun 1990-an. Sambungan listrik tersebut bukan suplai dari PLN, bukan juga dari tenaga angin, matahari, ataupun energi alternatif lainnya. Namun, dari pembangkit bertenaga energi fosil yang dikelola oleh sebuah koperasi yang didirikan oleh perkumpulan warga dari tiga kecamatan. “Hampir semua warga bergembira saat itu,” ujar Bapak suatu ketika. Berbeda dengan ia selaku pengurus masjid sudah mulai menyangsikan kegembiraan kolektif itu.

Dengan adanya listrik berarti seantero jalan dan tanah lapang, akan dipasangi lampu. Namun, bapak tidak meresahkan akan pesona cahaya-cahaya itu. Bapak meresahkan, akan dampak lain ruang-ruang yang diterangi pendaran cahaya itu. Terutama akan membuka ruang baru sambil berkumpul habis magrib. Hingga kebiasaan mengaji sehabis magrib bisa terkikis. Wajar bila bapak merasakan keresahan itu, karena ia hidup tanpa menggunakan listrik sebelumnya. Hampir separuh hidupnya ditemani lampu tempel atau petromaks.

Saat itu bapak sudah menggantikan posisi kakek yang sebelumnya menjadi pengurus dan imam masjid. Kakek sudah tidak bisa berjalan, akibat penyakit stroke yang dideritanya. Hingga mau tidak mau bapak selalu anak tertua harus membagi waktu untuk mengurusi masjid yang telah menjadi tradisi dalam keluarga kami, selain mengelola lahan pertanian.

Dari sekian tugas pengurus masjid salah satunya adalah agar tetap menjaga tradisi pengajaran mengaji bagi anak-anak kampung di masjid. Mengajarkan pemahaman tentang Islam sejak dini. Tidak hanya untuk anak-anak, syiar itu juga diperuntukkan bagi seluruh masyarakat. Masjid sudah menjadi pusat pembelajaran Islam di kampung saat itu. Hal ini cukup wajar, karena hanya di masjid saja tempat yang paling ”bercahaya”. Penerangan dari lampu petromaks yang jumlahnya hingga 12 buah yang dipasang di semua penjuru masjid. Maklum jika hanya masjid yang memiliki petromaks, karena harganya yang tidak memasyarakat.

Selain itu juga posisi masjid yang strategis, di depannya langsung menghadap jalan raya, yang dilintasi kendaraan-kendaraan lintas kabupaten. Hingga masjid bisa dikatakan tidak pernah lengang dari kerumunan. Sampai-sampai saat magrib tiba, seperti tempat berkumpulnya semua kepala keluarga seluruh kampung yang terorganisir. Begitulah cara masyarakat kami menutup hari. Menutup hari dengan salat berjamaah di masjid.

Sedangkan bagi kakak saya saat itu, magrib adalah waktu yang menjengkelkan. Anak-anak sekampung yang seumuran SD hingga SMP diwajibkan ke masjid untuk belajar mengaji. Tidak hanya anak laki-laki, perempuan juga demikian. Mengaji sudah menjadi kegiatan wajib bagi anak-anak di kampung. Bila tidak berangkat dengan alasan-alasan tertentu, maka bambu penunjuk papan akan tergambar melintang di punggung atau di tangan.

Jika ada yang melapor pada orang tuanya, yang dipersalahkan bukan guru mengaji, tapi malah sebaliknya. Para orang tua merasa malu jika anaknya tidak bisa mengaji. Itulah alasan atau semacam melegitimasi tidak langsung akan cara-cara keras yang dilakukan oleh guru ngaji di masjid.

Tidak hanya magrib waktu mengaji, subuh juga punya jadwal tersendiri. Bila tidak berangkat ngaji disaat subuh, maka siap-siap untuk direndam di kolam masjid pada pagi buta berikutnya. Tidak mengherankan bila semangat untuk belajar dan memahami firman Tuhan itu seperti hobi yang dipaksakan. Bukan karena lillahitaala, namun takut karena cambukan dan rendaman pagi buta.

Hal-hal di atas tidak sebatas itu saja. Mereka yang belajar mengaji pun punya tugas dan jadwal komisaris untuk kebutuhan belajar. Termasuk mengisikan air dalam bak besar khusus untuk tempat wudu para guru dan santri yang lain. Tugas tambahan lainnya adalah menghidupkan lampu petromaks yang jumlahnya hingga 12 buah itu. Harus punya keterampilan dan butuh kebiasaan untuk menghidupkan lampu berbahan bakar minyak tanah itu. Terutama agar warna cahayanya berwarna putih, tanpa sedikitpun warna api. Bila sudah putih, cahaya lampu petromaks akan tahan lama, tinggal memompa tekanan angin dalam rentan waktu sekitar satu jam.

Itulah sekelumit rutinitas anak-anak kampung kami sebelum adanya listrik. Pola-pola belajar agama yang keras dan penuh keterbatasan. Dan sah-sah saja jika saya menyebut generasi itu sebagai generasi petromaks. Sebuah generasi yang hanya disimbolkan pijar lampu petromaks yang menandai semangat belajarnya. Menghidupkan lampu itu seperti rukun wajib yang terakhir bagi anak-anak yang mengaji setelah menimba air hingga mempersiapkan karpet atau tikar untuk alas duduk.

Dengan adanya listrik, pola-pola mengaji seperti itu telah tiada. Pola pembelajaran yang seperti disetrum oleh semangat modernitas, yang tidak hanya menggusur budaya, juga penggunaan petromaks itu sendiri. Ini sangat kontras saat generasi saya. Kami tidak lagi mengaji di masjid yang lama. Hampir tiap dusun sudah memiliki masjid. Surau-surau kecil milik personal warga bermunculan sebagai tempat mengaji. Jumlahnya pun hingga lima surau. Dan saya mengaji dalam salah satu surau milik perorangan tersebut. Bisa saja ini terjadi setelah adanya listrik tersebut. Mungkin biaya operasional untuk penerangan sudah dianggap murah, tanpa perlu petromaks. Maka tidak mengherankan bila tempat-tempat mengaji tidak lagi di masjid. Masjid tidak lagi menjadi pusat keagamaan seperti dulu.

Saya tidak tahu apakah generasi saya diuntungkan dengan keadaan yang demikian. Namun, perkara bisa mengaji sudah sesuai target. Sebelum menginjak kelas lima SD sudah khatam Quran, setidaknya sudah terpenuhi. Saat mengaji kami tinggal berangkat setelah adzan berkumandang magrib, membaca salawat dengan mikrofon yang dipancarkan TOA, salat berjamaah, dan duduk manis menunggu guru ngaji datang.

Menimba air untuk air wudu untuk guru mengaji juga sudah tidak ada, mesin air sudah ada. Begitupun dengan jadwal membersihkan karpet dan mengepel lantai. Kami yang mengaji cukup membayar uang bulanan listrik dan kebutuhan lainnya pada pihak pemilik surau, itu sudah dianggap cukup.

Jadi nyaris sepanjang generasi saya, listrik bisa dikatakan melimpah. Kalaupun ada pemadaman bergilir itupun tidak begitu sering. Jika padam, pemilik surau sudah menyiapkan petromaks yang siap pakai dan sudah menyala.

Terkadang jadwal listrik mati bergilir kami tunggu-tunggu. Sebab bila listrik mati, otomatis kami tidak lagi melanjutkan untuk pelajaran membaca Alquran. Alasannya sederhana, tidak begitu jelas membaca Alquran bila menggunakan lampu petromaks. Entahlah, saya juga tidak tahu kenapa dan dari mana alasan itu muncul. Namun alasan itu cukup efektif saat itu, buktinya guru ngaji mengiyakanya, hingga pelajaran membaca Alquran diganti dengan pelajaran fiqih atau akidah akhlak, yang notabene pelajaran yang hanya seperti mendengarkan ceramah.

Begitulah kisah generasi mengaji saya yang terbagi dalam surau-surau. Hingga surau terkadang menjadi tempat menyenangkan setelah pulang mengaji. Kami bisa tidur di surau, untuk laki-laki agar tidak terlambat bangun subuh.

Hingga keberlimpahan listrik itu harus berakhir di penghujung 2006. Pihak koperasi dianggap tidak transparan dalam pembelian mesin pembangkit. Jumlah penduduk makin meningkat, berbanding lurus dengan jumlah permintaan pemasangan kWh baru. Dalam kondisi yang demikian pihak koperasi masih saja menerima permohonan-permohonan itu, tanpa memikirkan pembelian pembangkit baru untuk menambah daya.

Jumlah pelanggan makin membludak. Tidak seimbang dengan jumlah pasokan listrik yang tersedia. Dengan kondisi yang demikian, maka muncullah keputusan koperasi yakni, pemadaman bergilir hingga berlarut-larut. Tidak ada kabar yang jelas kepastian kapan bisa terpenuhi kebutuhan pelanggan untuk pasokan listrik. Padahal kebiasaan ketergantungan listrik sudah seperti mendarah daging. Penduduk tidak mau tahu, apalagi mencoba alternatif lain. Dengan kata lain, ketergantungan yang sudah sangat akut. Sudah terbiasa hidup tanpa kekhawatiran. Ini berdampak pada tertutupnya kemungkinan akan hal-hal yang bersifat alternatif.

Kalaupun yang berbau alternatif itu muncul sekarang—saat kurangnya pasokan listrik—butuh waktu dan proses untuk memulainya. Memikirkan, menjalankan, dan menjaganya. Hingga rasa bosan datang sebelum alternatif yang paling mungkin muncul sebagai solusi. Belum lagi bila kebuntuan muncul, pikiran kolektif masyarakat akan keberlimpahan sebelumnya tidak akan pernah mau ”dimaklumi”. Justru yang muncul bukan alternatif solutif untuk melawan ketergantungan itu, yang ada hanyalah emosi belaka.

Puncaknya pada pertengahan 2007 kemarin. Massa dari tiga kecamatan menyerang koperasi listrik, merusak apa yang ada. Hingga hampir semua bangunan dan mesin pembangkit ludes terbakar api. Tindakan anarkis itu berbuntut hingga listrik mati total. Tragis memang! Dengan kondisi gelap yang menyelimuti tiga kecamatan, pihak PLN—harapan masyarakat sebagai pemasok listrik yang dianggap anggap mapan—tidak mau menangguhkan ludes dan kolepnya koperasi listrik tersebut. Bagi PLN, terlalu beresiko menjanjikan adanya listrik setelah kejadian itu. Apalagi suplai listrik PLN untuk kawasan ibukota kabupaten dan sekitarnya saja masih kurang.

Saat saya tanyakan akan aksi pengrusakan tersebut pada seorang sahabat bapak, yang ikut dalam aksi itu menyatakan, “Lebih baik listrik tidak ada sama sekali dari pada terus dibohongi akan bayaran rekening yang tidak pernah berhenti,” ujarnya dengan nada emosi. Kemarahan yang masih terbawa, padahal hal itu saya tanyakan satu tahun setelah kejadian. Pertanyaan itu saya ajukan saat saya kebetulan pulang kampung dari Jogja saat itu.

Sebelum pulang saat itu saya sudah mengetahui listrik mati total. Saya merencanakan tidak akan pulang untuk berobat. Mau tidak mau hanya sakit yang memaksa saya mudik. Akhirnya bapak saya menyuruh pulang untuk diobati dan biar ada yang merawat dengan intens, itulah alasan bapak saat itu.

Dimanjakan dengan listrik sejak belajar ngaji hingga kuliah di Jogja sungguh sangat terasa saat pulang saat itu. Bila sehabis pukul 20.00, saat melewati jalan dan lingkungan kampung keadaan sudah gelap dan sepi. Masing-masing pintu rumah di pinggir jalan akan tertutup, tanda sang pemilik tidur. Hanya lampu tempel bersumbu kompor yang menerangi teras rumah. Petromaks hanya dipakai di rumah-rumah yang berpunya dan pihak masjid yang memilikinya. Itupun jadwal menyala di masjid hanya saat magrib hingga isya saja. Boros minyak tanah jika dihidupkan semalam suntuk. Apalagi minyak tanah sudah dicabut subsidinya oleh pemerintah, belum lagi faktor kelangkaanya.

Memang saat pulang itu listrik pasokan dari PLN sudah masuk, walaupun hidupnya hanya saat salat lima waktu saja. Listrik hanya digunakan hanya untuk menghidupkan amplifier dan TOA untuk mengumandangkan azan. Bila melewati waktu salat, sambungan listrik putus. Saya juga tidak tahu, itu akan berlangsung sampai kapan.

Belum genap seminggu tinggal di kampung, rasa bosan sudah menyerang. Rasa bosan yang memaksa untuk balik lagi ke Jogja atau tinggal di rumah saudara di ibu kota provinsi. Sungguh tidak tahan hidup dalam kegelapan yang sesungguhnya itu. Sampai-sampai membaca buku saat malam pun tidak sanggup berlama-lama di bawah pendaran lampu tempel yang ada. “Belum satu bulan kamu di rumah, kamu sudah ingin balik, padahal kamu belum sembuh,” ujar bapak saat saya merutuki keadaan itu. Hanya diam yang bisa saya dilakukan, mendengarkan apa yang ucapkan. Terkadang jika sudah sangat jengah, jadwal berobat ke rumah sakit daerah di provinsi saya reka-reka, bahkan bila perlu menginap hingga puas, baru balik lagi ke kampung.

Suatu sore, bapak membawa lampu petromaks ke rumah. Katanya, dapat dari berhutang dari sahabatnya. Sepertinya bapak sudah menangkap kejanggalan jadwal berobat saya yang makin sering menginap di ibu kota provinsi yang bermandikan cahaya di sepanjang jalan hingga taman-taman kota. Bapak terus menyuruh untuk menghidupkan petromaks tersebut. “Duh, suruh yang lain saja Pak, saya tidak bisa,” ujarku saat itu. Bapak tampaknya sudah bisa memprediksi akan jawaban saya. Itu tergambar dari raut mukanya yang tidak menunjukkan tanda kecewa ataupun marah.

Mendengar jawaban itu, bapak langsung menuju lampu yang telah dilepasnya terus memasang kaos lampu terus, mengambil spritus, dan korek api untuk menyalakannya. Bapak tidak butuh waktu lama untuk menyalakan lampu petromaks itu. Begitu malu melihat keceriaan bapak saat petromaks sudah menyala. Hanya bisa menyalakan dan menikmati malam di rumah dengan petromaks saja, rasa puasnya sangat luar biasa. Itu ditandai dengan, saat malamnya bapak membaca buku-buku agama koleksinya. Sesekali menulis dalam kertas kosong entah itu menyalin ayat-ayat  Alquran atau hadist. Mungkin untuk persiapan khotbah jumat yang akan dibawakan, prediksi saya. Bapak sepertinya ingin menanamkan contoh sebagai upaya menjalani hidup tanpa listrik, walaupun itu baru sebatas efeknya saja, dan saya belum bisa merasakannya.

Tidak ada keinginan untuk membaca saat itu, walaupun petromaks sudah di pasang di ruang tamu. Saya terus berpikir, kenapa begitu malas membaca. Kenapa saya tidak bisa menikmati cahaya lampu berbahan bakar fosil kelas tiga itu? Hingga saya berujar dalam hati, kalaupun saya bisa menghidupkan petromaks, rasa banggapun mungkin tidak ada. Tidak seperti bapak atau generasi kakak saya yang menikmati kenyamanan membaca dan mengaji dengan petromaks. Saya kira merekalah generasi petromaks yang sesungguhnya, mereka yang pernah hidup dalam gelap sebelum gelap menyerang.

Generasi yang tidak hanya bisa menyalakan lampu petromaks itu sendiri. Tetapi generasi yang bangga akan laku hidup sederhana dan keterbatasan. Lebih dari itu adalah kegembiraan yang selalu menyertai dalam menikmati pendaran cahayanya, bukan pasrah. Hal itu dibarengi dan dibuktikan dengan tetap semangat untuk belajar dibarengi rasa nyaman yang belum juga saya nikmati. Padahal sebelumnya generasi ini sempat hidup dengan kelimpahan listrik. Kini dengan superminimnya pasokan listrik, mereka tetap juga nikmati tanpa terus merutuki kegelapan itu. Sedangkan saya dan teman-teman seusia di kampung justru sebaliknya.

Momentum Newton

MISTERI APEL NEWTON : KISAH PERGULATAN SEORANG ISAAC NEWTON

MISTERI APEL NEWTON : KISAH PERGULATAN SEORANG ISAAC NEWTON Judul Asli : Isaac NewtonPenulis : James Gleick
Penerjemah : Bogie Soedjatmiko
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 360 Halaman + indeks

… Kita semua adalah Newtonian yang penuh semangat dan setia, ketika kita membicarakan gaya dan massa, aksi dan reaksi; ketika kita mengatakan bahwa tim olahraga atau seorang kandidat pemilu memiliki momentum; ketika kita mengomentari tentang kelembaman dari tradisi atau birokrasi; dan ketika kita membentangkan tangan dan merasakan gaya gravitasi yang menarik tangan-tangan kita ke bawah ….
James Gleick

Secara tidak langsung dari ungkapan James Gleick tersebut—penulis buku ini—telah menyimpulkan, bahwa setidaknya paham Newton baik lansung atau tidak langsung telah kita asimilasikan bukan hanya sebatas pengetahuan semata, juga sebagai keyakinan yang telah mendaging dalam pikiran.

Tokoh yang yang dimaksud penulisnya adalah Sir Isac Newton (1642-1727). Seorang ilmuwan Inggris yang telah banyak berkontribusi dalam fisika dan matematika. Dalam fisika, dialah yang telah merumuskan akan adanya gravitasi universal yang di tiap-tiap planet dalam semesta kesemuanya saling terkait, tentang spektrum cahaya; dimana cahaya adalah sebagai arus partikel dan warna putih terbentuk dari uraian banyak warna dalam pelangi, menciptakan matematika jenis baru; kalkulus integral dan diferensial, dan yang lainnya adalah tentang hukum gerak.

Dalam buku ini, James mengganggap bila penemuan Newton yang paling aneh dan paling penting adalah tentang teleskop dengan cermin pantul. Dimana dengan teleskop tersebut Newton meneliti tentang refraksi (pembelokan cahaya ketika melewati medium yang satu ke medium yang lain; dari udara ke air). Hal ini wajar, karena walau bagaimanapun, pada saat itu lensa biasa adalah salah satu penyebab refraksi, selain penyebab geometri.

Untuk meneliti sifat refraksi tersebut, Newton menggunakan jenis cermin pantul (reflecting miror) pada teleskop buatannya. Pada 1669 itulah ia memiliki teleskop yang memiliki satu tabung lensa kecil yang cukup stabil dengan panjang 15 cm dengan tingkat pembesaran 40 kali. Dengan teleskop itulah ia mampu melihat piringan planet Jupiter, Venus dengan bentuknya, dan satelit-satelit yang lainnya.

Dari laporan-laporan hasil pengamatan-pengamatan itulah, Henry Oldenburge—seorang sekretaris Royal Society. Membujuk Newton untuk mempublikasikan penemuannya tersebut. Ini bukan berarti yang pertama akan penemuannya. Sebelumnya, ia telah menulis lebih dari satu juta kata yang tidak pernah mau ia ceritakan pada siapapun, apalagi untuk diterbitkan!

The Royal Society adalah sebuah organisasi keilmuan tertua di Inggris sejak 1660. Perkumpulan elit ilmuwan itu bertujuan menciptakan arus informasi untuk semua, menjunjung tinggi komunikasi, dan pengecam kerahasiaan. Adapun tokoh senior dalam perkumpulan tersebut, seperti Robert Boyle seorang pakar kimia yang terkenal dengan bola kaca yang hampa udara yang termakhtub dalam Hukum Boyle. Selain itu ada juga ilmuwan sekaligus arsitektur: Cristoper Wren, perancang gereja Katedral ST Paulus, di London, dan tokoh-tokoh yang lainnya.

Organisasi ilmiah itu yang dalam visinya, tidak mau terjebak dalam bunga kata-kata, melainkan pengetahuan yang sebenarnya. Tujuan ini sangat wajar dalam perkumpulan itu, karena banyak ilmuwan pada saat itu dalam laporan tulisannya hanya terjebak dalam kefasihan bahasa dan retorika belaka.

Penemuan Newton tersebut akhirnya diterbitkan juga dalam jurnal Royal Society: Philosopphical Transction. Itupun setelah melalui bujukan dan sambil menakut-nakuti akan penjimplakan yang bisa menimpa temuannya. Newton punya masalah tersendiri, dalam hal publisitas, kontoversi dan ketakutan pada kritik akan temuan-temuannya masih membayanginya. Baginya kesunyian adalah dunia paling ia nikmati.

Prihal penemuan teleskop tersebut, bukan yang hal yang pertama yang ditemukannya. Sebelumnya pada 1618, saat itu ia berumur 24 tahun, ia sudah mulai menyusun kata-kata dan istilah matematika dalam bahasan kalkulus integral (metode dalam matematika untuk membagi garis lengkung menjadi kotak-kotak kecil), diferensial (kuantifikasi terhadap lengkungan dengan menentukan pusat-pusat, radius kurvatur yang diukur), dan menentuan istilah gaya (force) dalam hukum gerak yang diuraikannya. Selain itu ia sudah mulai menggunakan pengukuran dengan waktu yang rigit dalam tiap percobaannya.

Tidaklah berlebihan bila James Gleick dalam hal ini mengganggap sebagai penemuan yang aneh sekaligus penting. Bagaimana tidak di saat-saat inilah penulisan ilmiah mulai diberlakukan dan mulai berkembang. Bila pada abad 16—sebagai contoh; Galileo dalam The Assayer—penemuan-penemuan keilmuan yang sejenis masih dalam penulisannya sulit dibedakan antara penulisan sastra, sanjungan, kiasan, dan yang ilmiah.

Hingga jurnal tersebut untuk memulainya dengan tag line, “Kini saatnya kita bicara apa adanya, dengan ekspresi yang paling polos, dan jika memungkinkan ini berarti bahasa matematika.” (halaman 116). Mungkin inilah maksud momen sejarah yang aneh tersebut, tonggak awal publikasi ilmiah sudah lahir, sekaligus momen di mana Newton di setarakan dengan ilmuwan sebelumnya. Pada saat inilah Newton seperti menemukan momentumnya, menemukan keberanian memunculkan karya terhadap publik. Setelah itu ditawari untuk menjadi anggota, hingga kelak pada 1703 ia ditunjuk sebagai ketua.

Penemuan ilmiah lainnya adalah tentang hukum gravitasi dan hukum gerak. Keduanya saling mendukung dalam pergerakan benda. Hukum gravitasi Newton, seperti menjawab akan pertanyaan-pertanyaan Copernicus dan Kepler, bahwa adanya kemungkinan di Bumi dan di Bulan memiliki pusat gravitasinya tersendiri?

Jawaban pertanyaan tersebut sepertinya dijawab dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica atau lebih populer disebut Principia. Di mana dalam buku tersebut dideskripsikan mengenai teori gravitasi, walaupun secara umum. Penjelasan gravitasi tersebut dilandasi pada hukum gerak yang ditemukannya, benda akan tertarik ke bawah karena adanya gaya gravitasi.

Dengan adanya hukum gravitasi Newton tersebut kita akan bisa memahami akan muasal jatuhnya atau tertariknya sebuah benda ke permukaan bumi. Dengan bantuan hukum gerak Newton itu pula kita bisa mengetahui mengapa benda yang jatuh tersebut harus jatuh ke permukaan bumi. Hukum gravitasi tersebut berbunyi: dua benda saling tarik-menarik dengan kekuatan yang sebanding lurus dengan hasil-perbanyakan kedua massa benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak kedua benda tersebut.

Dalam membuat prinsip-prinsip dasarnya Hukum Gerak-nya, Newton lebih banyak melakukan eksperimen-eksperimen sebagai bentuk konfirmasi akan hasil tiap pengamatannya. Dan tidak mengherankan bila ia hanya sedikit dalam memikirkan hal-hal yang dianggap di luar dari hasil pengamatan tersebut. Maka dari pengamatannya tentang gerak, ia telah menggunakan konsep ruang dan waktu yang absolut.

Berbeda dengan Einstein yang pada 1905 mencoba memberikan perbaikan akan hal tersebut. Dengan kata lain butuh sekitar dua abad lebih (218 tahun) untuk perbaikan tersebut. Dalam hal ini Einstein mengkomfirmasikannya melalui Teori Relativitas Khusus (TRK). Dimana dalam teori ini, Einstein mampu menunjukkan bila ruang dan waktu dapat diperluas dan dimampatkan. Penjelasan singkat teori ini tersimpul dalam: E=MC². (E=Energi. M= Massa. C= Kecepatan Cahaya)

E=MC² menguraikan, bahwa makin cepat sebuah benda bergerak, makin besar massanya. Dengan TRK ini, massa tidak lagi dipandang hanya sebatas besaran yang tidak bisa berubah, justru satuan suku MC² itu sendiri adalah Energi itu sendiri. Dalam teori ini yang banyak memainkan peran mendasar adalah kecepatan cahaya (C) itu sendiri.

Dengan kata lain, hukum gerak Newton masih berjibaku pada benda-benda berkecepatan rendah, dan Einstein mengakui bila TRK-nya berlaku dalam kecepatan cahaya. Akibat keadaan inilah mekanika klasik (Newton) berhasil menetapkan hukum kekekalan massa sebagai suatu hukum yang memiliki kesahihannya tersendiri.

Butuh waktu 11 tahun, setelah TRK dilansir, untuk menunggu Teori Relatifitas Umum (TRU). Sebenarnya teori ini sangat abstrak dan tidak dapat diungkapkan tanpa rumus-rumus matematis. TRU memang sedianya berlaku untuk semua sistem, bukan hanya sistem inersia (keadaan gerak benda) saja. Secara ringkas teori itu berbunyi: ruang dan waktu tidak absolut, namun lekuk. Dengan kata lain, bentuknya tergantung dari massa-massa benda. Dan tidak mungkin ada ruang dan waktu kosong.

Banyak yang salah kaprah, bila TKU ini mencampakkan TRK sebelumnya. Seperti dalam penjelasan di atas, untuk mengetahui akan fungsi masing-masing teori-teori relativitas tersebut, kita membutuhkan fakta-fakta sebagai pembanding. Enstein menyimpulkan, bahwa TRK tidak dapat mengklaim ranah kesahihhan yang tidak terbatas—hasil-hasilnya hanya berlaku selama kita dapat mengabaikan pengaruh medan gravitasi pada gejala-gejala cahaya.

Dari penemuan Einstein akan relativitas inilah sebagai muqadimah untuk menuju bahasan fisika kuantum (“fisika mikro”, yang membahas bidang atom dan sub atom). Bahasan fisika yang sulit dalam penjelasannya; semakin dijelaskan dengan detail, semakin menajamkan paradoks itu sendiri. Hinnga para fisikawan mengetahui, bahwa justru paradoks-paradoks itulah unsur intrinsrik fisika atom itu sendiri.

Itulah riwayat dan perjalanan hukum gerak dan gravitasi Newton. Ia telah menyempurnakan fisika klasik. Kedua teori tersebut adalah hukum fundamental fisika klasik. Harus diakui memang, pengamatan-pengataman eksperimental setelah abad XIX hingga saat ini menuntut perombakan dan perbaikan pada kedua teori tersebut.

Mengenai akan batas kemampuan hukum Gerak-nya sudah ia memprediksi akan hal tersebut, lengkap dengan kemungkinan-kemungkinan, walau sebatas dugaan. Ia menyadari itu sepenuhnya. Kapasitasnya sebagai ilmuwan telah menempanya melalui metode-metode yang ketat dan teratur. Dari proses-proses itulah yang membentuknya menjadi seorang ilmuwan teoritis sekaligus seorang eksperimental.

Sebelum meninggal ia menulis, “Menerangkan alam semesta secara keseluruhan adalah tugas yang terlalu berat. Jauh lebih baik jika kita menerangkan sedikit dengan disertai kepastian, dan menyerahkan selebihnya kepada orang-orang lain yang datang setelahmu” (halaman 293). Dan ia meninggal pada 19 Maret 1727.

Berita kematiannya begitu menginspirasi banyak kalangan hingga hitungan dasarwa, baik bagi para seniman ataupun ilmuwan lainnya. Banyak para seniman yang memuji sekaligus membencinya, namun mereka tetap kagum akan kejeniusannya. Mulai dari Alexander Pope, William Blake, Byron, Keynes, dan yang lainnya.

Buku ini seperti menceritakan Newton dari jarak yang sangat dekat, lengkap dengan proses-proses kreatifnya dan ide-ide jenialnya yang didapat tidak dengan instant. Seperti dalam bayangan para penyair Inggris saat itu, terutama akan mitos jatuhnya buah apel, yang dianggap awal dari hukum gravitasi-nya. Dalam buku ini mitos tersebut masih bersifat mungkin, bisa juga tidak sama sekali, dengan kata lain belum ada kepastian.

James Gleick seperti menerjemahkan bahasa matematika dan hukum fisika yang rumit dengan kata-kata yang mudah dipahami. Penulis buku ini dengan melalui gaya berceritanya yang mendalam, akan masa silam Newton. Setidaknya memberikan harapan akan masa depan sains yang masih kurang digemari. Mungkin sudah seharusnya penulisan sains populer saat ini seperti buku ini. Cara bercerita yang membawa pembacanya seperti diajak menelusuri bibir jurang yang curam dan berbahaya. Perjalanan sains yang selalu mendebarkan akan tiap-tiap penemuan-penemuan berikutnya dan terkadang saling terkait hingga saling sanggah. Seperti dunia yang tidak pernah selesai. Dan memang seharusnya demikian bila melihat perkembangan sains saat ini.

Pesan yang Kesekian….

Sudah lama saya tidak bertemu dengan seorang teman lama saat masih mondok dulu. Kini kabarnya ia sedang berada di Jogja untuk mengikuti sebuah seminar dan pelatihan. Selain agenda itu ia merencanakan ingin ketemu dan kumpul-kumpul dengan teman-teman yang lainnya.

“Duh, saya gak punya kontak dengan yang lain”
“Ya udah, gak apa-apa,” balasan sms-nya dihari terakhir pelatihan yang diikutinya.

Sore harinya, akhirnya kami bertemua juga. Walaupun cukup lama saya menunggu di kantin kampusku, tempat kami janjian. Tidak lama ketemu, kami hanya saling komentarin akan berubahan fisik masing-masing diawal pembicaraan. Hingga terdengar suara azan memanggil untuk shalat.

“Ada masjid gak di kampusmu,” tanyanya.
“Duh, masjidnya sedang direhab”
“Mending shalat dimusola di fakultas saja”

Kamipun bergegas menuju mushola di fakultasku. Bergegas agar bisa salat berjamaah. Setelah magrib kami tunaikan berjamaan. Obrolan kami lanjutkan di mushola fakultasku. Mulanya saya menawarkan agar langsung untuk makan malam saja. Tapi dia menolak tawaranku. Ia menyarankan, agar makan malam sebaiknya setelah habis shalat isya saja.

“Seperti waktu di pondok dulu,” ujarnya.
“Ya, ya….”

Dalam dalam hati berujar. Kalau dulu saat mondok tidak bisa tidur kalau belum isya. Sekarang lima waktu aja terkadang bolong, kok bisa tidur pulas ya. Duh. Ada apa ini.

Banyak hal yang diceritakan di selasar mushola itu. Mulai dari pekerjaanya, hingga rencana pernikahannya pada bulan haji tahun ini. Tidak banyak saya bertanya tentang kedua hal tersebut, karena bagian yang tema pekerjaan saya belum bisa, masih terjerat studi dengan jumlah semester yang makin memikat dalam bentuk konversi heksadesimal: 0B. Hal yang keduapun demikian, punya nyali untuk memikirkan itu saja juga belum ada. Hingga saya alihkan pembicaraan tentang siapa calon pasanganya. Dalam banyangan, mungkin saya kenal jika itu santri putri saat mondok dulu.

Ternyata bukan dari santri pondok calon pasanganya. Hingga dia sebutkan nama dan asalnya. Dan setelah dengar penjelasannya saya tidak kenal sama sekali akan calon istrinya itu. Hanya anggukan kepala untuk untuk semua penjelasan itu. Cukup sering saya menganggukkan kepala malam saat itu. Seolah anggukan kepala sebagai bentuk takzim dan hormat sekaligus bangga pada teman itu, akan semua yang telah dicapainya.

Azan isya-pun terdengar. Tidak ada alunan puji-pujian untuk nabi sehabis azan untuk menunggu jamaah yang lain. Ini mengingatkan saya akan lantunan shalawat yang tiada henti terdengar sebelum para santri datang ke masjid saat mondok dulu. Hingga saat jumlah jamaah sudah berjumlah ada lima orang. Muazzinpun mengambil inisitif untuk iqomah untuk segera memulai shalat.

Pascashalat isya, rencana untuk makan malam bersama tidak jadi, karena ia dikirimi pesan oleh ketua tim rombongannya untuk kumpul di penginapan untu membahas satu hal, katanya. Akhirnya akupun mengantarnya menuju jalan raya depan kampus untuk mencari taksi menuju penginapan.

Memang tidak ada kesan yang lebih dari pertemuan dengan teman lama itu. Tapi banyak hal dari nasehatnya—pembicaraan saat kami jalan kaki melewati kawasan kampus—yang nampaknya perlu untuk didengarkan. Terutama tentang studi. Pesan semacam ini sudah menjadi virus dalam kepala, hampir setiap hari nesehat-nasihat semacam ini datang dari orang-orang terdekat. Tidak terhitung lagi jumlahnya, seperti pesan yang kesekian….