Hilangnya Generasi Petromaks
Listrik masuk ke kampung kami sekitar tahun 1990-an. Sambungan listrik tersebut bukan suplai dari PLN, bukan juga dari tenaga angin, matahari, ataupun energi alternatif lainnya. Namun, dari pembangkit bertenaga energi fosil yang dikelola oleh sebuah koperasi yang didirikan oleh perkumpulan warga dari tiga kecamatan. “Hampir semua warga bergembira saat itu,” ujar Bapak suatu ketika. Berbeda dengan ia selaku pengurus masjid sudah mulai menyangsikan kegembiraan kolektif itu.
Dengan adanya listrik berarti seantero jalan dan tanah lapang, akan dipasangi lampu. Namun, bapak tidak meresahkan akan pesona cahaya-cahaya itu. Bapak meresahkan, akan dampak lain ruang-ruang yang diterangi pendaran cahaya itu. Terutama akan membuka ruang baru sambil berkumpul habis magrib. Hingga kebiasaan mengaji sehabis magrib bisa terkikis. Wajar bila bapak merasakan keresahan itu, karena ia hidup tanpa menggunakan listrik sebelumnya. Hampir separuh hidupnya ditemani lampu tempel atau petromaks.
Saat itu bapak sudah menggantikan posisi kakek yang sebelumnya menjadi pengurus dan imam masjid. Kakek sudah tidak bisa berjalan, akibat penyakit stroke yang dideritanya. Hingga mau tidak mau bapak selalu anak tertua harus membagi waktu untuk mengurusi masjid yang telah menjadi tradisi dalam keluarga kami, selain mengelola lahan pertanian.
Dari sekian tugas pengurus masjid salah satunya adalah agar tetap menjaga tradisi pengajaran mengaji bagi anak-anak kampung di masjid. Mengajarkan pemahaman tentang Islam sejak dini. Tidak hanya untuk anak-anak, syiar itu juga diperuntukkan bagi seluruh masyarakat. Masjid sudah menjadi pusat pembelajaran Islam di kampung saat itu. Hal ini cukup wajar, karena hanya di masjid saja tempat yang paling ”bercahaya”. Penerangan dari lampu petromaks yang jumlahnya hingga 12 buah yang dipasang di semua penjuru masjid. Maklum jika hanya masjid yang memiliki petromaks, karena harganya yang tidak memasyarakat.
Selain itu juga posisi masjid yang strategis, di depannya langsung menghadap jalan raya, yang dilintasi kendaraan-kendaraan lintas kabupaten. Hingga masjid bisa dikatakan tidak pernah lengang dari kerumunan. Sampai-sampai saat magrib tiba, seperti tempat berkumpulnya semua kepala keluarga seluruh kampung yang terorganisir. Begitulah cara masyarakat kami menutup hari. Menutup hari dengan salat berjamaah di masjid.
Sedangkan bagi kakak saya saat itu, magrib adalah waktu yang menjengkelkan. Anak-anak sekampung yang seumuran SD hingga SMP diwajibkan ke masjid untuk belajar mengaji. Tidak hanya anak laki-laki, perempuan juga demikian. Mengaji sudah menjadi kegiatan wajib bagi anak-anak di kampung. Bila tidak berangkat dengan alasan-alasan tertentu, maka bambu penunjuk papan akan tergambar melintang di punggung atau di tangan.
Jika ada yang melapor pada orang tuanya, yang dipersalahkan bukan guru mengaji, tapi malah sebaliknya. Para orang tua merasa malu jika anaknya tidak bisa mengaji. Itulah alasan atau semacam melegitimasi tidak langsung akan cara-cara keras yang dilakukan oleh guru ngaji di masjid.
Tidak hanya magrib waktu mengaji, subuh juga punya jadwal tersendiri. Bila tidak berangkat ngaji disaat subuh, maka siap-siap untuk direndam di kolam masjid pada pagi buta berikutnya. Tidak mengherankan bila semangat untuk belajar dan memahami firman Tuhan itu seperti hobi yang dipaksakan. Bukan karena lillahitaala, namun takut karena cambukan dan rendaman pagi buta.
Hal-hal di atas tidak sebatas itu saja. Mereka yang belajar mengaji pun punya tugas dan jadwal komisaris untuk kebutuhan belajar. Termasuk mengisikan air dalam bak besar khusus untuk tempat wudu para guru dan santri yang lain. Tugas tambahan lainnya adalah menghidupkan lampu petromaks yang jumlahnya hingga 12 buah itu. Harus punya keterampilan dan butuh kebiasaan untuk menghidupkan lampu berbahan bakar minyak tanah itu. Terutama agar warna cahayanya berwarna putih, tanpa sedikitpun warna api. Bila sudah putih, cahaya lampu petromaks akan tahan lama, tinggal memompa tekanan angin dalam rentan waktu sekitar satu jam.
Itulah sekelumit rutinitas anak-anak kampung kami sebelum adanya listrik. Pola-pola belajar agama yang keras dan penuh keterbatasan. Dan sah-sah saja jika saya menyebut generasi itu sebagai generasi petromaks. Sebuah generasi yang hanya disimbolkan pijar lampu petromaks yang menandai semangat belajarnya. Menghidupkan lampu itu seperti rukun wajib yang terakhir bagi anak-anak yang mengaji setelah menimba air hingga mempersiapkan karpet atau tikar untuk alas duduk.
Dengan adanya listrik, pola-pola mengaji seperti itu telah tiada. Pola pembelajaran yang seperti disetrum oleh semangat modernitas, yang tidak hanya menggusur budaya, juga penggunaan petromaks itu sendiri. Ini sangat kontras saat generasi saya. Kami tidak lagi mengaji di masjid yang lama. Hampir tiap dusun sudah memiliki masjid. Surau-surau kecil milik personal warga bermunculan sebagai tempat mengaji. Jumlahnya pun hingga lima surau. Dan saya mengaji dalam salah satu surau milik perorangan tersebut. Bisa saja ini terjadi setelah adanya listrik tersebut. Mungkin biaya operasional untuk penerangan sudah dianggap murah, tanpa perlu petromaks. Maka tidak mengherankan bila tempat-tempat mengaji tidak lagi di masjid. Masjid tidak lagi menjadi pusat keagamaan seperti dulu.
Saya tidak tahu apakah generasi saya diuntungkan dengan keadaan yang demikian. Namun, perkara bisa mengaji sudah sesuai target. Sebelum menginjak kelas lima SD sudah khatam Quran, setidaknya sudah terpenuhi. Saat mengaji kami tinggal berangkat setelah adzan berkumandang magrib, membaca salawat dengan mikrofon yang dipancarkan TOA, salat berjamaah, dan duduk manis menunggu guru ngaji datang.
Menimba air untuk air wudu untuk guru mengaji juga sudah tidak ada, mesin air sudah ada. Begitupun dengan jadwal membersihkan karpet dan mengepel lantai. Kami yang mengaji cukup membayar uang bulanan listrik dan kebutuhan lainnya pada pihak pemilik surau, itu sudah dianggap cukup.
Jadi nyaris sepanjang generasi saya, listrik bisa dikatakan melimpah. Kalaupun ada pemadaman bergilir itupun tidak begitu sering. Jika padam, pemilik surau sudah menyiapkan petromaks yang siap pakai dan sudah menyala.
Terkadang jadwal listrik mati bergilir kami tunggu-tunggu. Sebab bila listrik mati, otomatis kami tidak lagi melanjutkan untuk pelajaran membaca Alquran. Alasannya sederhana, tidak begitu jelas membaca Alquran bila menggunakan lampu petromaks. Entahlah, saya juga tidak tahu kenapa dan dari mana alasan itu muncul. Namun alasan itu cukup efektif saat itu, buktinya guru ngaji mengiyakanya, hingga pelajaran membaca Alquran diganti dengan pelajaran fiqih atau akidah akhlak, yang notabene pelajaran yang hanya seperti mendengarkan ceramah.
Begitulah kisah generasi mengaji saya yang terbagi dalam surau-surau. Hingga surau terkadang menjadi tempat menyenangkan setelah pulang mengaji. Kami bisa tidur di surau, untuk laki-laki agar tidak terlambat bangun subuh.
Hingga keberlimpahan listrik itu harus berakhir di penghujung 2006. Pihak koperasi dianggap tidak transparan dalam pembelian mesin pembangkit. Jumlah penduduk makin meningkat, berbanding lurus dengan jumlah permintaan pemasangan kWh baru. Dalam kondisi yang demikian pihak koperasi masih saja menerima permohonan-permohonan itu, tanpa memikirkan pembelian pembangkit baru untuk menambah daya.
Jumlah pelanggan makin membludak. Tidak seimbang dengan jumlah pasokan listrik yang tersedia. Dengan kondisi yang demikian, maka muncullah keputusan koperasi yakni, pemadaman bergilir hingga berlarut-larut. Tidak ada kabar yang jelas kepastian kapan bisa terpenuhi kebutuhan pelanggan untuk pasokan listrik. Padahal kebiasaan ketergantungan listrik sudah seperti mendarah daging. Penduduk tidak mau tahu, apalagi mencoba alternatif lain. Dengan kata lain, ketergantungan yang sudah sangat akut. Sudah terbiasa hidup tanpa kekhawatiran. Ini berdampak pada tertutupnya kemungkinan akan hal-hal yang bersifat alternatif.
Kalaupun yang berbau alternatif itu muncul sekarang—saat kurangnya pasokan listrik—butuh waktu dan proses untuk memulainya. Memikirkan, menjalankan, dan menjaganya. Hingga rasa bosan datang sebelum alternatif yang paling mungkin muncul sebagai solusi. Belum lagi bila kebuntuan muncul, pikiran kolektif masyarakat akan keberlimpahan sebelumnya tidak akan pernah mau ”dimaklumi”. Justru yang muncul bukan alternatif solutif untuk melawan ketergantungan itu, yang ada hanyalah emosi belaka.
Puncaknya pada pertengahan 2007 kemarin. Massa dari tiga kecamatan menyerang koperasi listrik, merusak apa yang ada. Hingga hampir semua bangunan dan mesin pembangkit ludes terbakar api. Tindakan anarkis itu berbuntut hingga listrik mati total. Tragis memang! Dengan kondisi gelap yang menyelimuti tiga kecamatan, pihak PLN—harapan masyarakat sebagai pemasok listrik yang dianggap anggap mapan—tidak mau menangguhkan ludes dan kolepnya koperasi listrik tersebut. Bagi PLN, terlalu beresiko menjanjikan adanya listrik setelah kejadian itu. Apalagi suplai listrik PLN untuk kawasan ibukota kabupaten dan sekitarnya saja masih kurang.
Saat saya tanyakan akan aksi pengrusakan tersebut pada seorang sahabat bapak, yang ikut dalam aksi itu menyatakan, “Lebih baik listrik tidak ada sama sekali dari pada terus dibohongi akan bayaran rekening yang tidak pernah berhenti,” ujarnya dengan nada emosi. Kemarahan yang masih terbawa, padahal hal itu saya tanyakan satu tahun setelah kejadian. Pertanyaan itu saya ajukan saat saya kebetulan pulang kampung dari Jogja saat itu.
Sebelum pulang saat itu saya sudah mengetahui listrik mati total. Saya merencanakan tidak akan pulang untuk berobat. Mau tidak mau hanya sakit yang memaksa saya mudik. Akhirnya bapak saya menyuruh pulang untuk diobati dan biar ada yang merawat dengan intens, itulah alasan bapak saat itu.
Dimanjakan dengan listrik sejak belajar ngaji hingga kuliah di Jogja sungguh sangat terasa saat pulang saat itu. Bila sehabis pukul 20.00, saat melewati jalan dan lingkungan kampung keadaan sudah gelap dan sepi. Masing-masing pintu rumah di pinggir jalan akan tertutup, tanda sang pemilik tidur. Hanya lampu tempel bersumbu kompor yang menerangi teras rumah. Petromaks hanya dipakai di rumah-rumah yang berpunya dan pihak masjid yang memilikinya. Itupun jadwal menyala di masjid hanya saat magrib hingga isya saja. Boros minyak tanah jika dihidupkan semalam suntuk. Apalagi minyak tanah sudah dicabut subsidinya oleh pemerintah, belum lagi faktor kelangkaanya.
Memang saat pulang itu listrik pasokan dari PLN sudah masuk, walaupun hidupnya hanya saat salat lima waktu saja. Listrik hanya digunakan hanya untuk menghidupkan amplifier dan TOA untuk mengumandangkan azan. Bila melewati waktu salat, sambungan listrik putus. Saya juga tidak tahu, itu akan berlangsung sampai kapan.
Belum genap seminggu tinggal di kampung, rasa bosan sudah menyerang. Rasa bosan yang memaksa untuk balik lagi ke Jogja atau tinggal di rumah saudara di ibu kota provinsi. Sungguh tidak tahan hidup dalam kegelapan yang sesungguhnya itu. Sampai-sampai membaca buku saat malam pun tidak sanggup berlama-lama di bawah pendaran lampu tempel yang ada. “Belum satu bulan kamu di rumah, kamu sudah ingin balik, padahal kamu belum sembuh,” ujar bapak saat saya merutuki keadaan itu. Hanya diam yang bisa saya dilakukan, mendengarkan apa yang ucapkan. Terkadang jika sudah sangat jengah, jadwal berobat ke rumah sakit daerah di provinsi saya reka-reka, bahkan bila perlu menginap hingga puas, baru balik lagi ke kampung.
Suatu sore, bapak membawa lampu petromaks ke rumah. Katanya, dapat dari berhutang dari sahabatnya. Sepertinya bapak sudah menangkap kejanggalan jadwal berobat saya yang makin sering menginap di ibu kota provinsi yang bermandikan cahaya di sepanjang jalan hingga taman-taman kota. Bapak terus menyuruh untuk menghidupkan petromaks tersebut. “Duh, suruh yang lain saja Pak, saya tidak bisa,” ujarku saat itu. Bapak tampaknya sudah bisa memprediksi akan jawaban saya. Itu tergambar dari raut mukanya yang tidak menunjukkan tanda kecewa ataupun marah.
Mendengar jawaban itu, bapak langsung menuju lampu yang telah dilepasnya terus memasang kaos lampu terus, mengambil spritus, dan korek api untuk menyalakannya. Bapak tidak butuh waktu lama untuk menyalakan lampu petromaks itu. Begitu malu melihat keceriaan bapak saat petromaks sudah menyala. Hanya bisa menyalakan dan menikmati malam di rumah dengan petromaks saja, rasa puasnya sangat luar biasa. Itu ditandai dengan, saat malamnya bapak membaca buku-buku agama koleksinya. Sesekali menulis dalam kertas kosong entah itu menyalin ayat-ayat Alquran atau hadist. Mungkin untuk persiapan khotbah jumat yang akan dibawakan, prediksi saya. Bapak sepertinya ingin menanamkan contoh sebagai upaya menjalani hidup tanpa listrik, walaupun itu baru sebatas efeknya saja, dan saya belum bisa merasakannya.
Tidak ada keinginan untuk membaca saat itu, walaupun petromaks sudah di pasang di ruang tamu. Saya terus berpikir, kenapa begitu malas membaca. Kenapa saya tidak bisa menikmati cahaya lampu berbahan bakar fosil kelas tiga itu? Hingga saya berujar dalam hati, kalaupun saya bisa menghidupkan petromaks, rasa banggapun mungkin tidak ada. Tidak seperti bapak atau generasi kakak saya yang menikmati kenyamanan membaca dan mengaji dengan petromaks. Saya kira merekalah generasi petromaks yang sesungguhnya, mereka yang pernah hidup dalam gelap sebelum gelap menyerang.
Generasi yang tidak hanya bisa menyalakan lampu petromaks itu sendiri. Tetapi generasi yang bangga akan laku hidup sederhana dan keterbatasan. Lebih dari itu adalah kegembiraan yang selalu menyertai dalam menikmati pendaran cahayanya, bukan pasrah. Hal itu dibarengi dan dibuktikan dengan tetap semangat untuk belajar dibarengi rasa nyaman yang belum juga saya nikmati. Padahal sebelumnya generasi ini sempat hidup dengan kelimpahan listrik. Kini dengan superminimnya pasokan listrik, mereka tetap juga nikmati tanpa terus merutuki kegelapan itu. Sedangkan saya dan teman-teman seusia di kampung justru sebaliknya.
